Seperti biasa, aq tuh orangnya suka ‘keep questioning why’. Kali ini, aq bertanya-tanya tentang ilmu, knowledge, pengetahuan.. dan semacamnya.
Yg aq tanyakan, sebenarnya ilmu itu milik siapa sih? Apa iya ilmu itu diperdagangkan? Bentar..bentar..bentar.. Aq tau, untuk mendapatkan ilmu itu ada 6 syaratnya:
… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
- Dzaka’ (Kecerdasan)
- Khirs (Tamak akan ilmu)
- Dirham (Money, duit, kepeng..)
- Ijtihad (Kesungguhan)
- Shukhbatul Ustadz (Mengakrabkan diri dg Guru)
- Thuluzzaman (Nid a long time bro..)
Kembali pada tadi.. Emang, untuk mendapat ilmu kita harus kluar duit. Dalam artian, butuh buku iya, butuh pena, alat tulis, bahan percobaan iya.. Itu emang bwt ngedapetinnya bth duit. Yg aq tanyakan: Kalo seseorang menuntut ilmu, dan dia bertemu dg orang yg punya ilmu. Trus, hanya dg modal ngomong aja, sbenernya bs tuh transfer ilmu. Tapi.. ntah gimana caranya kok jadi suatu kelaziman kalo mo dapet ilmu tuh harus BAYAR ato yg semacamnya. Ada lagi malah yg mematenkan ilmunya dengan dalih Hak atas Kekayaan Intelektual.
Ada jg yg pelit ilmu. Punya pengetahuan, tapi g mau bagi2 sama orang lain. Mungkin hanya ingin merasa spesial. Artinya, dengan hanya dia yang tahu, dia jadi spesial. Dan dia nyaman dengan keadaan itu. Dia tidak ingin orang tahu apa yang ia ketahui. Karena, dengan kondisi itu, dia akan senantiasa menjadi “The special one”.
Brader en Sister, sebenernya, ilmu/pengetahuan itu milik siapa sih? Bijak-kah kita menyimpannya untuk diri kita sendiri? Bukankah penyebaran ilmu berbanding lurus dengan kemajuan? Semakin ilmu tersebar, maka semakin majulah komunitas di sekitar. Sejarah sudah membuktikan berulang kali. Sejarah dianggap terkutuknya mesin cetak, sejarah Sekolah Ongko Loro, sejarah digantungnya Copernicus, sejarah.. ah, sudah banyak sejarah bercerita kepada kita
Share the knowledge Bro, Sist. Maybe u’re not special anymore at that time but.. Believe me, u can pull ur ability as far as u want. And that means: U’re growing, improving, and being better than before!
Don’t be a fool. Di luar sana kebudayaan seperti ini udah berkembang pesat. Sementara kita masih dilenakan dg status Quo kita. Seperti yang disebut sebagai “Raja-raja Jawa jaman dahulu” oleh Mbah Pram. Pada akhirnya? Sejarah bercerita kepada kita. Mau mengulangi hal yang sama?